8/31/2014

Naik komuter ke Festival Kuliner Serpong

23 Agustus 2014 saya ingin menghadiri acara Festival Kuliner Serpong. Saya naik busway dari Kuningan Barat sambil terus melirik jam di handphone. Pukul 11.30 WIB ada pemberangkatan bus. Setengah berlari menelusuri jembatan penghubung yang panjang dari halte Semanggi ke halte Bendungan Hilir. 

Ngos. Ngos  begitu kira-kira nafas berbunyi. Lumayanlah membakar lemak. Sebelumnya kulineran masakan Kalimantan Selatan Ketupat Kandangan dan Lontong Segitiga. Full santan. Berita buruk tidak selalu mengkhabarkan negatif. Jalan jauh = sehat. Tetapi kaki bilang pegal, pegal. timpuk negatif.

Selanjutnya naik moda berlambang elang ke arah blok M. Kurang 4 menit kaki  menginjak halte Gelora Bung Karno. Tangan bermain di tuts Hp menulis pesan di inbox teman agar ia mau menunggu. Belum ada balasan. (Ketika bertemu ia cerita sementara uninstall FB, PR untuk FB mengecilkan size nih). Kalau bisa terbang. terbang deh agar segera sampai.  Kurang 1 menit dari 11.30 WIB  mata menyapa shelter. Persis samping Fx Sudirman. Sepintas ada bus tulisan Summarecon. Alhamdulillah.

Huf. Oh penonton kecewa. Ternyata itu bus shuttle ke Bekasi. Bukan 'Anang' (panggilan untuk anak laki-laki bahasa Banjar, Kalimantan Selatan,  waktu SMA) kalau menyerah. Seseorang menyarankan saya melihat jadwal bus di halte. Tertulis kalau tidak salah jam keberangkatan selanjutnya 16.30 WIB (Menyesal tidak memfoto jadwal di halte. Kan bisa dimanfaatkan untuk orang lain. Di-share di linimasa).

Keburu dimulai acara:


Akhirnya kembali ke rencana awal naik komuter. Belum pernah naik dari stasiun Sudirman. Terbayang harus menyeberang kembali (jalan Sudirman dekat stasiun Sudirman sangat lebar) kalau naik bus turun harus naik jembatan penyeberangan yang panjang. Jika tidak terburu-buru tidak masalah naik bus. Memilih taksi sebagai pengantar adalah pilihan tepat karena dari dukuh atas itu ada jalan memutar kebawah jembatan dan berhenti persis depan stasiun. Baru tahu ada jalan di bawah jembatan layang. Serasa jadi penemu sekaliber Thomas Alva Edison. 

Sambil facebook-an dengan Mak Waya. Karena janjian berangkat sama-sama. Lama menunggu. Kalau sendiri memang begitu. Coba ada teman tidak terasa Setiap ada kereta yang datang saya celingukan. Mak Waya tidak membalas massage eh message. Kalau naik kereta, saya bisa naik kereta yang sama. Ia tidak usah turun. Kan lama lagi menunggu kereta. Mata  bolak-balik melihat aplikasi komuter. Aplikasi itu sepertinya live. Bisa langsung melihat posisi commuter line (saya tidak bertanggung jawab dengan kebenarannya).

Sekitar pukul 13.00 Waya menelpon, "Mak, kita turun mana?"

"Turun Tanah Abang." Persepsi, saya kami akan naik kereta turun di Tanah Abang baru nyambung ke Serpong. 

Tidak berapa lama ada kereta datang dari Lenteng Agung. Saya amati satu persatu penumpang yang turun. Tidak tahunya Mak Waya diantar suami ke Stasiun Sudirman bukan naik komuter. Kami kemudian menunggu komuter selanjutnya. Agak banyak moda ini menuju Tanah Abang di stasiun Sudirman. Bisa dari Bekasi atau Depok/Bogor. Sambil menunggu saya mengeluarkan BB dari dalam tas sambil di charge. Ternyata panas minta ampun.

"Beri parasetamol saja," saran Mak Waya. Oh ya handphone Mak Waya tidak diinstall FB karena dinilai berat. Oo ternyata dari tadi saya message tidak dibalas  gara-gara itu. Saya mencoba resepnya. Juga menghapus banyak aplikasi di BB benar tidak ngambekan dan panas dalam lagi. Ingat kata koko di Roxy. HP itu seperti orang kalau banyak masalah lambat loadingnya. Kata saya tergantung orangnya kalau ia sabar pasti tetap adem.

Banyolan obat penurun panas Waya membuat saya geli. Dasar mak-mak kalau mendengar kata panas langsung ingin obat penurun panas saja. Nah kebersamaan  seperti ini tidak akan dapat kalau berangkat sendirian. Kemudian saya curcol tentang mengejar shuttle bus Summarecon Serpong. Walau sudah berusaha tetap tidak dapat. Next harus prepare setengah jam ke tempat angkutan yang ada jam tertentu keberangkatannya.  Daripada seperti yang saya alami. Kalau ke bandara  saya harus menyiapkan waktu 4 jam sebelumnya. Lebih baik menunggu daripada telat  beberapa menit. Gigit jarinya poool.

Sambil bercanda sama Waya, "Ada baiknya tagline diblog ganti jadi Senang, Senang, Senang. Jangan Sabar Syukur Ikhlas lagi. Sepertinya diuji terus." 

Jawab Mak Waya mestinya lancar, berhasil, trus satunya lagi lupa.  Kami tertawa berdua menertawakan nasib saya hari itu. Tetapi memang saya harus menunggu Waya. Kalau tidak pasti sendiri digigit sepi di kereta. Untuk tagline, SSI, rasanya tidak ingin saya ubah. Kehidupan tidak menjanjikan kesenangan saja. Lalu antibodi dalam menghadapi semua itu apa? Ya... Sabar Syukur Ikhlas. 

link peta 

Kereta Rel Listrik (KRL) datang, kami naik menuju Tanah Abang. Sebenarnya ada yang langsung ke Serpong tetapi jam 16.00 an. Jeee keburu bubar. Sesampai di sana Mak Waya 'panik' karena komuter menunju Serpong hampir sampai sementara belum membeli tiket kereta Tanah Abang-Serpong. Hah berarti salah persepsi ketika ia menelpon tadi. Karena mempunyai tiket elektronik jadi lupa kalau membeli tiket harus menyebutkan tujuan.  Saya kira jauh dekat sama saja. Untuk kasus ini mungkin karena pindah jalur jadi harus membeli tiket kembali atau dari awal menyebutkan tujuan.

Menghitung waktu. Saya memilih mengajak Mak Waya naik ketika komuter tiba. Lebih baik denda daripada menunggu kereta berikutnya. Salah perhitungan, ternyata kendaraan besi yang kami tumpangi berangkatnya 14.02. Jadi tidak langsung berangkat. Mau turun lagi sudah tidak ada waktu.

Sepanjang jalan deg degan juga kalau dendanya besar. Paling parah diomeli sama petugas. Mak cantik ini trauma pernah membeli tiket untuk tujuan suatu stasiun. Ternyata terlewat. So... harus membayar lebih untuk balik lagi. 

Di kendaraan beroda baja karbon ini saya mengobrol dengan orang yang sebelah. Cerita punya cerita kami harus turun di Stasiun Rawa Buntu kalau mau ke Summarecon Mal Serpong bukan Stasiun Serpong. Sesudah itu kalau mau cepat naik ojek sekitar Rp 30.000. Kalau angkot  naik 2 kali. Naik bus jurusan Kali Deres terus turun di Gading. Naik angkot biru satu-satunya menuju SMS. 

Tidak sampai 30 menit kami sampai di Stasiun Rawa Buntu. Janji untuk mengurus tiket mak Waya saya tepati. Cuma berubah pikiran dari langsung lapor ke petugas. Mendadak ingin membeli tiket elektronik baru. Sama-sama bayar Rp 50.000 (misalnya disuruh bayar) lebih baik alternatif kedua yang dijalankan.

Ketika di depan loket ada antrian. Penumpang mengembalikan kartu jaminan. Mereka mendapat kembalian sebesar Rp 5000.  Sebelum terjadi transaksi petugas menghampiri. Bla-bla saya menjelaskan masalahnya.

"Oooh kalau itu  tidak perlu membeli tiket elektronik," begitu penjelasannya.

Ia menolong 'mengeluarkan' mak Waya. Tidak perlu membayar sejumlah uang dan menjelaskan berbagai alasan, Kami blogger. Acara ini menyangkut  masa depan. Jadi tidak boleh terlambat (h h h).

Lepas dari satu masalah kembali bingung. Harus naik apa? Ojek, angkot, atau ...? Mata menyapu halaman parkir. Tidak terlihat ojek. tepatnya ada tetapi tidak ada pengendaranya.  Kami naik ke atas jalan layang. Di sana ada banyak angkot dan taksi. 

"Nah benar naik itu saja, " seru  mak Waya. Ia punya voucher Blue bird, menang kuis disuatu acara. Argometer menunjukkan sekitar Rp 60.000,  tiba di Summarecon Mal Serpong.  Alhamdulillah.  Kesabaran membuahkan syukur. Ikhlas bermuara pada ketenangan. Itulah hidup

 Sabar berbalas kemudahan. Pulang acara malam dapat tebengan dari Mak Dwiyani Artha. Terima kasih Mak. 

4 comments:

  1. Ikut ngos2an bacanya hihii, aku mau ke sana lagi Mak, mo ikut tak?btw bus shelter yg ke summarecon naiknya dari mana?

    ReplyDelete
    Replies
    1. di FX Sudirman Mak. Kapan mau kesana?

      Delete
  2. maaf banget mak, gara-gara aku ya belum install fb di hp

    ReplyDelete
    Replies
    1. Bukan Mak. Itu salah aku. Terlalu mepet waktu perjalanannya. Kita juga tidak janjiankan. Salah satu usahaku menghubungi dirimu agar bisa ikut. Ternyata tidak bisa. Bagiku yang terpenting adalah usaha. Peluuuk Mak Lidya. Kalau kamu baca FB, jadi lain ceritanya bukan. Gak ada cerita seru pasti.

      Delete