4/13/2014

Literasi Kumpulan Emak Blogger untuk Pendidikan Indonesia

http://t.co/WTbWxGbyVm

Membangun Pendidikan (BI-06)


Literasi Kumpulan Emak Blogger untuk Pendidikan Indonesia

Oleh: Tri Sapta Marsiawati, Publish on: 1 April 2014 00:00 wib
Kata  pengantar penerbit buku 8 Standar Nasional pendidikan menyebutkan sistem pendidikan nasional harus mampu menjamin pemerataan kesempatan pendidikan, peningkatan mutu serta relevansi dan efisiensi manajemen pendidikan untuk menghadapi tantangan sesuai dengan tuntutan perubahan kehidupan lokal, nasional, dan global sehingga perlu dilakukan pembaharuan pendidikan secara terencana, terarah dan berkesinambungan.
Pada kenyataannya masih banyak PR yang harus dikerjakan oleh seluruh masyarakat. Tidak hanya oleh pemerintah, guru, atau yang berkecimpung dalam dunia kependidikan saja. Bila dirunut dari sejarah pendidikan di Indonesia memiliki pasang surut
Tren data statistik APS (Angka Partisipasi Sekolah) meningkat dari tahun ke tahun. Namun angka putus sekolah tetap saja tinggi. Semakin modern zaman bukan berarti pandangan seseorang terhadap bangku sekolah semakin maju. Karena garis kemiskinan dan pemahaman arti belajar menyebabkan seseorang berhenti sekolah. Walau bertabur beasiswa dan sekolah gratis, mereka memilih berhenti berjuang.
Khususnya untuk perempuan muncul perkataan untuk apa sekolah  nanti akan ke dapur juga, itu masih lekat pada masyarakat. Non scholae sed vitae discimus. Belajar bukan untuk sekolah tetapi untuk hidup tidak dicerna dengan baik. Ada dua kutub yang berbeda tentang pemaknaan belajar. Belajar untuk makan sedang yang satu belajar untuk hidup
Untuk kalangan tertentu karena kesadaran mendidik anak penting meskipun mereka lulusan perguruan tinggi  bahkan saat mereka kuliah mereka berprestasi, pada saat menikah dan mempunyai balita  mereka memilih mendampingi anak. Barisan ibu pendamping anak semaking panjang. Mereka butuh aktualisasi diri tanpa harus melepaskan nilai kuantitas kedekatan dengan anak dan ada juga perempuan pembelajar walau bekerja mereka perlu berkontribusi.
Ditengah maraknya sosial media berdirilah Kumpulan Emak Blogger. Komunitas perempuan tidak hanya para ibu namun bagi perempuan muda, single sah saja ikut bergabung. Mereka menggunakan platform seperti blogger, kompasiana, blog detik, tumblr, wordpress, bahkan web yang berbayar dan lain-lain. Konten blog beraneka ragam dari khas ibu-ibu masak memasak, mendidik anak,  relasi dengan pasangan, make up, pakaian, hingga masalah sport, otomotif. Masalah pendidikan, ekonomi: promosi, sosial: kemanusiaan, budaya,  kesehatan, traveling, dan yang sangat hangat politik: pemilu.
Tujuh prinsip Alwasilah  tentang  pendidikan bahasa berbasis literasi berbanding lurus dengan yang dilakukan Emak Bloger. Prinsip itu adalah
Literasi adalah kecakapan hidup yang memungkinkan manusia berfungsi maksimal sebagai anggota masyarakat. Literasi membekali manusia menjadi warga negara yang efektif yang mengetahui hak dan kewajibannya (citizenship literacy) warga negara yang mampu mengubah diri, menggali potensi diri serta berkontribusi bagi keluarga, lingkungan, dan negaranya. Emak Blogger sebagai warga negara mengetahui betul peran ini. Para anggotanya  tidak hanya lewat dunia maya membagi pengetahuan mereka namun dalam dunia nyata menyentuh orang-orang yang tidak bisa touchinternet. Emak Blogger  yang notabene berusia berapa saja adalah  pembelajar seumur hidup.  Bila hal itu bisa ditularkan kepada semua orang dan semua lapisan, maka banyak yang mempunyai  learning capability. Tidak mengecap sekolah formal tidak masalah. Bila punya kemampuan dan semangat belajar maka kebutuhan hidup dari primer hingga tersier akan terpenuhi.
Literasi mencakup kemampuan reseptif dan produktif dalam upaya berwacana secara tertulis maupun secara lisan. Emak Blogger  baik yang sudah mempunyai anak ataupun ikut andil dalam dunia mendidik khususnya dunia bahasa. Sejak dini sudah trampil berbahasa tentu secara bertahap akan membawa manfaat yang banyak. Bagi Emak Blogger itu sendiri latihan menulis di blog entah itu bagus atau tidak lama kelamaan akan terasah. Dengan menulis secara produktif maka suatu saat akan menghasilkan secara materi.
Literasi adalah kemampuan memecahkan masalah. Banyak para emak blogger mengatakan  menulis adalah salah satu metode untuk merumuskan masalah. Ketika masalah ditulis maka akan terlihat jelas masalahnya dan problem solvingnya lebih kena. Ketika tulisan di depan mata akan terlihat keruwetan berpikir. Berpikir tidak linier.
Literasi adalah refleksi penguasaan dan apresiasi budaya. Ada Emak Blogger menulis dalam blognya mengedepankan moleknya Indonesia bila dilihat kultur, budaya, keindahan alam. Sehingga bangsa lain tidak hanya melihat Indonesia negara yang korup, kegaduhan politik dan perilaku minus pejabat. Indonesia kaya dengan  adat istiadat, lihat saja pakaian daerah, kebiasaan hidup, bentuk rumah yang tidak terlepas dari akar budaya masyarakat. Di dukung ketrampilan membuat foto yang bisa dipelajari di dunia maya  membuat pembaca blog akan tertarik berkunjung ke Indonesia. Itu berarti devisa bagi negara. Bayangkan dari kegiatan “sederhana” yang serius bisa menolong negara. Ujung-ujungnya akan meningkatkan pendapatan perkapita. Dana untuk pendidikan tentu akan bertambah.
Literasi adalah kegiatan refleksi diri. Ketika kumpulan tulisan di blog di baca maka akan dapat dilihat dari titik lampau hingga sekarang. Ada tulisan yang bisa merefleksikan penggunaan bahasa. Berkembang ke arah yang baik atau tidak. Refleksi adalah konstruk atau pemahaman yang terus berkembang dan semakin canggih (development contruct). Penghargaan para pelaku ekonomi ataupun  departemen yang sedang mensosialisaikan program dengan cara menyelenggarakan kontes menulis adalah suatu apreasiasi yang bisa menjadi refleksi bagi penulis blog. Emak Blogger dituntut untuk memperbaiki diri dari sisi pengetahuan, ketrampilan dalam berbahasa. Admin Kumpulan Emak Blogger menyadari kebutuhan anggotanya. Mereka menyelenggarakan pelatihan penulisan, misalnya editing, penulisan fiksi dan lain-lain. Ini zaman orang tidak boleh  mengatakan diriku tidak bisa belajar hanya karena harus menjaga anak di rumah dan banyak kerepotan yang lain sehingga tidak bisa datang ke tempat kursus. Semua pelatihan dilakukan dengan online.
Literasi adalah hasil kolaborasi. Emak Blogger menulis tentu ada target pembaca. Ketika menulis ada nilai-nilai yang ingin disampaikan ada ajakan untuk melakukan sesuatu. Tipe tulisan emak blogger yang rata-rata  membumi  lebih mudah dipahami oleh berbagai kalangan.
Literasi adalah kegiatan melakukan interpretasi.  Emak blogger memaknai peristiwa sekeliling kemudian ditulis. Interprestasi atas berbagai jenis teks dalam wacana tekstual, visual, dan digital diberbagai ranah kehidupan dan bidang ilmu akan sampai pada pembaca blog. Perlu kearifan agar interpretasi itu sampai dengan baik untuk semua orang.
Kumpulan Emak Blogger pada akhirnya tidak hanya berperan dalam pendidikan literasi saja, tetapi literasi untuk segala aspek pendidikan. Sebuah sejarah telah lahir dalam dunia literasi.


Tulisan ini diikutsertakan dalam lomba http://writing-contest.bisnis.com/home

3 comments:

  1. makasih mbak, jadi bersemangat untuk jadi blogger,, terinspirasi dari tulisan mbak

    ReplyDelete