10/31/2013

MENJADI INDONESIA



Sangat suka menulis repotase diawali dengan transportasinya dahulu.  Undangan dari Tempo jam  18.00. Apa daya jam segitu baru sampai Kecamatan Jagakarsa.
Batal menggunakan motor, aku memilih menggunakan commuter (sengaja  menyebut bukan kereta api). Tersindir dengan Lazua beberapa waktu lalu,” Ummi kenapa kereta api itu tidak ada apinya?” (Bila menyanyi kereta api juga bukan dengan tut tut tetapi jes jes, Iya zaman sudah berubah)
“Dulu nak kereta itu ada apinya karena menggunakan batu bara.”
Sekarang  kalau naik berbarengan dengan orang pergi kerja atau pulang kerja, orangnya yang berasap. Penuh. Alhamdulillah ba’da Magrib arah Kota adalah pilihan tepat, karena lengang.
Aku turun di Godangdia kemudian melanjutkan perjalanan dengan ojek menuju gedung Galeri Nasional Jl Merdeka Timur No 14 Jakarta Pusat.
Merah putih dari kejauhan sudah terlihat. Punya gawe Tempo.  Temanya Malam menjadi Indonesia.
Setelah menyantap hidangan, menu yang kupilih oseng kacang panjang dan nasi bakar. Maunya menerapkan Food Combining kalau malam bolehnya nasi, sayur, dan protein nabati. Pagi makan buah. Siang protein hewani dengan sayur. Katanya, orang Indonesia kalau tidak makan nasi bukan makan. Itukah menjadi Indonesia?
Acara di mulai sekitar jam 19.40 menit. Sajian lagu Indonesia seperti Selendang sutera, Indonesia Pusaka memenuhi telinga hadirin ( Ada bulenya juga lho) berhenti. Bersambung dengan beberapa sambutan: Bapak Rocky Gerung dan Ibu Mardiyah Chamim (Direktur Eksekutif TEMPO Institute)
Sedikit aku mencatat  dari sambutan: 

-   Para peserta penulis esai diharapkan tidak saja tulisannya yang cerdas namun penulisnya juga mempunyai kecerdasan sosial.

-    Ada kemarahan dalam tulisan dan harapan dibalik itu.

Acara puncak adalah pengumuman pemenang Kompetisi Essai mahasiswa: Menjadi Indonesia 2013. Sayang  tak mencatat siapa pemenangnya. 
http://www.tempo.co/read/news/2013/10/30/173525981/Mahasiswa-UIN-Juara-Esay-i-
Acara ini dihadiri oleh bapak Basuki Tjahaja Purnama dan Titik Puspa. Acara yang lain adalah peluncuran Surat dari dan untuk Pemimpin. Ada 95 surat dari tokoh Indonesia. Bergetar membacanya. Para undangan yang datang mendapatkan buku ini. Oleh-oleh yang sangat bagus untuk anak-anakku, terutama anak pertamaku pelalap buku tebal. Mudah-mudahan kelak ia juga berani menulis essay untuk Indonesia dengan karyanya. Memang ia terlahir dan sampai sekarang di Indonesia, menjadi Indonesia karena takdirnya. Bagaimana dengan orang Indonesia yang tinggal bukan di Indonesia? Akh bukan tempat dimana kau tinggal tetapi bila hati dan darahmu Indonesia itu berarti menjadi Indonesia.

Qoute dari Goenawan Muhammad

MENJADI INDONESIA adalah menjadi manusia yang bersiap memperbaiki keadaan, tetapi bersiap pula untuk melihat bahwa perbaikan itu tidak akan sempurna dan ikhtiar itu tidak pernah selesai

6 comments:

  1. setuju, dimanapun kita tinggal jgn lupakan darah Indonesia :)

    ReplyDelete
  2. Pengalaman berharga ya mbak. Ini kunjungan perdana saya ke sini ya. Makasih komen menyejukkannya di blog saya :)

    ReplyDelete
  3. Seneng ya bisa hadir di acara2 spt ini, wawasan nambah terus :))

    ReplyDelete