12/11/2012

Kartunet Kampanye Aksesibilitas tanpa Batas

MELIHAT LEWAT BALQIZ


Duduk di barisan ke dua dan mojok dekat tiang penyangga, agar dapat colokan. Saptu, awal Desember 2012, di gedung Caraka Loka Pusdiklat Kemlu, Sisingamaraja 73, Jakarta. Aku sibuk membuka tas mengeluarkan peralatan. Kucari kacamata. Hmmm sepertinya ketinggalan. Ku buka lagi tas kuselusuri kembali dengan hati-hati tiap bagian tas. Akhirnya   dapat juga kacamata. Alhamdulillah tidak ketinggalan. Bagaimana mereka yang sama sekali tak bisa melihat?
Acara ASEAN BLOGGER #PEDULI Disabilitas dan AIDS dibuka oleh Mak Mira Sahid, penggerak KEB, dimulai dengan perkenalan para komunitas blogger antara lain Kompasiana, Komunitas Lumpia, Hijabers Mom Akademi Berbagi, Komunitas Bogor, Angin Mamiri, Kartu Net, Blog fam, Blogger Bekasi,  Blogger Depok, Komunitas ID Kita  dan masih banyak yang lainnya. Acara ini dalam rangka memperingati hari Disabilitas (tanggal 3 Desember) dan AIDS (1 Desember) diselenggarakan oleh Asean Blogger Community, KEMLU, KEMKOMINFO,  bekerja sama dengan BLOGDetik, Kartunet, Komisi Penanggulangan AIDS, ANCOL, AIDS   Watch Indonesia dan disponsori oleh kartu XL.


Kemudian acara game aksesibel yaitu catur, sonic match, top speed. Sementara para blogger  nondisabilitas dan disabilitas berlomba, aku berbincang dengan Bunda Balqiz.







Mak Waya melawan master, berhasil menjadi juara 2
Mak Sumiyati ikut lomba Top Speed, mengandalkan pendengaran tidak ada visualisasi


Bunda Balqiz, Ibu Prima

Perjuangan

Ibu Prima (bunda Balqiz) mengawali cerita dengan kelahiran Balqiz  yang berbarengan dengan  2 kembaran lainnya. 1 orang dari triplet tersebut meninggal. Balqiz terlahir  penderita ROP  (Retinopathy of prematurity) stadium V. Perkembangan  belum genap satu bulan Balqiz operasi di Singapura. Namun retinanya tetap tak berfungsi. Fungsi retina adalah menerima bayangan visual yang dikirim ke otak.


Mata.png
sumber Wikipedia 
Perjuangan Ibu Prima dalam mengajak Balqiz ke dunia luar. Awalnya risi bila ada orang memandang si buah hati dari ujung kaki sampai ke kepala. Lama kelamaan perasaan itu terkikis. Sikap bunda yang tegar membawa kepada kepercayaan diri pada Balqiz. Ia terbiasa bermain dengan anak-anak sebaya di lingkungan rumah bahkan mall yang biasa dikunjungi ia  berjalan sendiri.

Bunda berkacamata ini pernah berusaha menyekolahkan si cantik Balqiz di sekolah musik namun tidak diterima karena dengan alasan tidak bisa membaca partitur, syarat kenaikan tingkat harus bisa membaca notasi musik. Sayang bakat tersebut tak dikembangkan dengan maksimal. Balqiz mendengar penolakan, Kemudian hari ketika Bunda mendapatkan tempat kursus yang mau menerima, Balqiz menolak. Menurut Bunda sebaiknya sebelum membawa ABK keluar yang harus disiapkan mental terlebih dahulu. Siap tidak diterima.

Banyak hal sederhana bagi orang kebanyakan namun bagi ibu Prima dalam membimbing Balqiz perlu cara dan pemikiran yang mendalam. Berkelana di blog Triplet’s Girl dan All about Balqiz aku temukan bagaimana Ibu Prima memberi training  Balqiz berjalan, bertegur sapa dengan orang lain dan pencapaian yang lain.  Sederet cerita  menyentuh luruh dalam haru. 

Balqiz belajar mengangkat nampan sendiri
Belajar ke toilet sendiri, menyusuri tangga busway, Balqiz di wawancarai
Balqis bermain dekat komplek rumah

 Ketrampilan

Aku merasa melihat lewat Balqiz, ketika bundanya bercerita tentang ketrampilan yang bisa dilakukan oleh Balqiz. Misalnya ia bisa ke toilet sendiri, mengenakan baju dan celana (agar mudah membedakan yang mana belakang diberi kancing, sebagai tandanya). Belajar membuat telur mata sapi dari memecah telur hingga menggoreng. Balqiz membukakan  mataku melihat dunia lebih bijak. Allah memberikan seseorang Balqiz dan Balqiz lain agar orang lain lebih melihat hidup ini. Jangan pernah putus asa dalam berusaha. Mereka saja dalam keterbatasan mampu menembus dan melalui semua rintangan dengan tabah. Mengapa kita yang dilengkapkan oleh Allah berhenti dan memilih menyerah untuk berjuang. Sesungguhnya mereka sempurna melebihi manusia kebanyakan. Dengan indera yang ada, masing-masing indera mempunyai nilai lebih tinggi dari orang lain. Misalnya kemampuan mendengar melebihi orang biasa. Ibu Prima berkeinginan suatu saat Balqiz tumbuh menjadi sosok mandiri. Berharap pada setiap untaian doa yang menjalar dalam usaha. 

Harapan

Saat ini Penyelenggara Negara  memberikan atensi lebih terhadap penyandang disabilitas, terbukti adanya Undang-undang Penyandang Disabilitas (UU RI no 19 tahun 2011), Jalan di trotoar dari Senayan dan rencananya hingga Thamrin untuk penyandang tuna netra dan pengguna kursi roda.

Sumber foto http://ww.108jakarta.com
http://ww.108jakarta.com/webdata/jakarta_news/1350272563_jakarta-news_DKI-Sediakan-Jalan-Khusus-Penyandang-Disabilitas/headline.jpg


Masih ada harapan lain yang aku dapatkan dari Ibu Prima dan bergerilya pada berbagai sumber bacaan.
  1. Pajak peralatan yang dipergunakan penyandang disabilitas khususnya tuna netra diturunkan karena  shipping costs murah sementara peralatan tersebut mahal karena dianggap barang  mewah dan  belum bisa diproduksi  di Indonesia
  2. Fasilitas umum yang ramah pada penyandang disabilitas. Seperti  lift  menggunakan braille. Antara busway  dan halte mudah dijangkau khususnya bagi pengguna kursi roda dan penyandang disabilitas netra. Untuk nondisabilitas saja terkadang sulit untuk melangkah. antara peron dan kereta api  dan akses pada  ruang publik seperti kelurahan, Puskemas, Mall, terutama pada toilet. 
  3. Diperbanyak sekolah biasa yang mau menerima murid berkebutuhan khusus. Andai sekolah inklusi sudah banyak tentu anak berkebutuhan khusus  tak perlu jauh-jauh sekolah. Contoh sekolah inklusi SMAN 66, banyak menerima siswa disabilitas netra bahkan diberi pinjaman laptop dan tape recoder. Menurut Ibu Prima masih banyak sekolah yang belum siap. Bahkan untuk berdiskusi masalah ini saja tidak mau. Padahal banyak anak disabilitas dari sisi penerimaan pelajaran tak bermasalah. Mereka hanya sulit mengakses. Sementara Balqiz belum bisa masuk sekolah  inklusi, ia harus menempuh perjalanan yang cukup jauh dari Pondok Gede hingga Lebak Bulus belum lagi terjebak dengan macet. 
  4. Lebih banyak lagi perusahaan/instansi yang mau menerima penyandang disabilitas.    
  5. Balai seperti Balai Besar Vokasional Bina Daksa (BBRVBD) Cibinong dalam menyiapkan disabilitas yang trampil, perlu diperbanyak. Dengan demikian mereka dapat diterima setara dengan nondisabilitas. Sedangkan yang memilih wiraswasta, perlu dibekali dengan cara mengakses pinjaman, tenaga kerja dengan keahlian yang mencukupi, peralatan cukup untuk menjalankan usaha, bahan baku dan pemasaran.
  6. Aksesibilitas terhadap kesehatan. Khusus bagi penyandang paraplegia perlu ada petugas  home care dan bagi disabilitas ruwi,  petugas yang bisa berkomunikasi dengan mereka (buletin difabel Sapda). 
  




Empati dari nondisabilitas  banyak membantu kemajuan dalam aksesibilitas tanpa batas bagi  disabilitas. Aksesibilitas adalah derajat kemudahan dicapai oleh orang, terhadap suatu objek, pelayanan ataupun lingkungan. Aksesibilitas juga difokuskan pada kemudahan bagi penderita cacat untuk menggunakan fasilitas seperti pengguna kursi roda harus bisa berjalan dengan mudah di trotoar ataupun naik keatas angkutan umum (wikipedia). Perlu digarisbawahi sekarang penderita cacat istilahnya adalah disabilitas. 






Tindakan yang dilakukan oleh pengendara tersebut di atas sangat membahayakan disabilias  khususnya disabilitas daksa pengguna kursi roda. Mudah-mudahan yang akan datang  masyarakat makin menyadari, mereka juga bagian  dari masyarakat  berhak diterima. Seperti yang termaktub dalam Undang-Undang Disabilitas. Tujuan konvensi adalah untuk memajukan, melindungi, dan menjamin kesamaan hak dan kebebasan yang mendasar bagi semua penyandang disabilitas, serta penghormatan terhadap martabat penyandang disabilitas sebagai bagian yang tidak terpisahkan (inherent dignity).



Masih banyak  asa yang mereka sandarkan pada negara dan bangsa ini, tentu tak terbilang yang mandiri tanpa tergantung orang lain. Contoh Habibie Afsyah (ahli internet Marketer), Eko Ramaditya Adikara (blogger),  Dimas Prasetyo Muharram (penggagas Kartunet, Karya Tuna Netra), Ankie Yudistia (Founder & CEO Thisable Enterprise | Empowering Disabled Person).

Semoga harapan Ibu Prima terhadap Balqiz dan harapan yang lain segera terealisasi seiring masyarakat inklusif semakin merebak dan kampanye yang dilakukan oleh Kartunet untuk aksesibilitas tanpa batas menghasilkan perolehan yang gemilang. 





Tulisan pertama untuk ASEAN BLOGGER #PEDULI
Tulisan ini dilombakan dalam Kontes BloggingKartunet (KBK) 2012 yang diselenggarakan oleh kartu net.com dan xl co.id

Kontes Blogging Kartunet 2012 berhadiah laptop





Sumber Tulisan:

http://ww.108jakarta.com/jakarta-news/2012/10/15/7026/DKI-Sediakan-Jalan-Khusus-Penyandang-Disabilitas?pc=2
http://17-08-1945.blogspot.com/2011/12/koran-digital-ramadhani-ray-penyandang.html
http://zenstrive.multiply.com/journal/item/281
http://budisansblog.blogspot.com/2012/05/solusi-pendidikan-inklusi.html
http://id.wikipedia.org/wiki/Aksesibilitas
http://primaningrum-arinarresmi.blogspot.com,
http://kacamatabunda.blogspot.com
http://rehsos.depsos.go.id/modules.php?name=News&file=article&sid=1414
www.sapdajogja.org
http://smanj.sch.id/index.php/arsip-tulisan-bebas/40-artikel/115-pendidikan-inklusi-pendidikan-terhadap-anak-berkebutuhan-khusus
http://taranokanai.blogspot.com/2012/12/asean-blogger-peduli.html
http://www.indonesiafinancetoday.com/reg_file/uu/UU%20No%2019%20Tahun%202011.pdf
http://www.kartunet.com/2012/12/seru-main-game-bareng-tunanetra
http://www.kartunet.com/2012/12/komunitas-blogger-kampanyekan-isu-hiv-aids-disabilitas











11 comments:

  1. Ikut menyimak bunda. Tulisan bunda bagus :).

    ReplyDelete
    Replies
    1. Terimakasih semangatnya @Ummi Nilam.

      Delete
  2. Tulisannya sangat membuka pikiran, mak. terlebih lagi ketika kita mengetahui, ada diantara kita yang mengalami hal tersebut. Semoga saudara-saudara kita tetap diberikan kekuatan sehingga benar2 bisa menjadi pribadi tangguh yang mandiri, TFS ya, mak

    ReplyDelete
    Replies
    1. Suatu kehormatan dikunjungi Mak Mira. Sebelum bertemu mereka saya tak tahu aksesibilitas, masyarakat inklusif, sekolah inklunsi. Makasih Mak, saya bisa mengecap pengalaman-pengalaman disetiap undangan Emak-emak Blogger.

      Delete
    2. Sekolah inklunsi> inklusi. H h setua ini baru sadar mengidap disleksia. Padahal waktu seklah dan kuliah tak mengalami hambatan. Barangkali sudah lama tak dipergunakan jadi rada lemot. Ngeblog mencegah pikun kalau begitu dan mengurangi disleksia. h h

      Delete
  3. terimakasih sudah menampilkan kami dalam tulisan mak tri. semoga bisa menjadi berkah bagi banyak orang, semoga masyarakat umum semakin bisa menerima para penyandang disabilitas disekitar mereka. salam hangat dari bunda dan balqiz :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sama-sama Mak Prima. Aamiin doanya.

      Delete
  4. Nice Article... good luck ya

    ReplyDelete
  5. kunjunganku di blog ini suatu keuntungan menemukan artikel yang kualitas, memberi image yang baik untuk pengunjungnya? salam sukses :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Salam. Baru saja saya berkunjung ke google+ anda...kebetulan saya mau tahu caranya menghalau belalang di daun mawar saya.

      Delete