8/20/2016

Potret Cinta B.J. Habibie Pada Indonesia

Bila ditanya kapan Pak Habibie lahir? Atau Pak Habibie presiden ke berapa? Banyak orang mencari di google. Tapi kalau ditanya apa yang dibuat oleh pak Habibie untuk Indonesia? Tidak sedikit yang menjawab. Bapak yang lahir 25 Juni 1936  membuat pesawat untuk Indonesia. Beliau sangat mencintai Indonesia. Karena itu meski dicintai oleh Jerman, sampai-sampai akan diberikan paspor negara Jerman. Sang inspirator menolak, sebuah tawaran yang langka untuk orang asing.

Soeharto, tahun 1973, meminta doktor ingenieur ini untuk menjadi penasihat  dibidang teknologi  pesawat terbang langsung di bawah presiden.. Saat itu beliau menjabat vice president dan direktur teknologi di Messerschmitt-Bolkow Blohm. Sebuah perusahaan kedirgantaraan di Jerman.  Tahun 1978- 1997 menjadi Menteri Negara Riset dan Teknologi (Menristek). Juga menjadi Ketua Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi. Beliau mempunyai yayasan ICMI (Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia), jargon Imtaq (Iman Taqwa) dan Iptek sangat terkenal pada saat itu. Potret kecintaan beliau pada masyarakat terutama insan muda untuk tidak melupakan hal itu.

Tahun 1981, mendapat gelar profesor dari ITB. beliau yang sering dikatakan kecil tetapi semuanya otak. Cerdas sekali. Gelar Doktor Teknik Mekanik dalam bidang desain dan konstruksi pesawat udara diperoleh  sebelum usia 40 tahun. Tahun 1995 berhasil melahirkan pesawat N250 Tetuko. Seperti  tanggal lahir  beliau 25 Juni 1936. Waktu saya kecil, bangga sekali menyaksikan pesawat tersebut bisa mengudara, karena yang membuat orang Indonesia. Selanjut direncanakan tahun 2021 pesawat R80 akan terbang. #habibie80 
dok pri

1997-1998, suami dokter Hasri Ainun Besari, menjadi wakil presiden, tahun 1998 menjadi presiden ke 3 Indonesia. Tanpa wakil presiden. Dari teknokrat menjadi birokrat, sebuah potret cinta Indonesia yang tentu penuh perjuangan dan rintangan. Banyak gagasan politik yang dinilai membawa angin segar dan mencengangkan. Indonesia berhasil melalui krisis dan mulai melangkah menjadi negara demokrasi. Media bisa berbicara banyak. Peserta Pemilu menjadi 48 partai. Banyak yang menyebut beliau Bapak Demokrasi Indonesia selain Bapak Teknologi.


Selesai tugas menjadi presiden, bapak yang hobinya memotret ini tinggal di Jerman. Hingga sang istri meninggal tahun 2010.  Bentuk potret cinta dalam dimensi lain. Inspirasi seorang tokoh yang sangat mencintai istri. Sebuah kesetiaan dan pembuktian kalimat saat melamar akan menjadi suami yang terbaik. Masa lalu adalah milik pak Habibie dan masa lalu bu Ainun adalah milik ibu. Masa yang akan datang adalah milik kita berdua, kalimat romantis seorang teknokrat yang juga pujangga, menurut saya. Sepeninggal bu Ainun, pak Habibie banyak menulis untuk menghilangkan rasa sedih. 

Dalam kesempatan wawancara di sebuah televisi swasta, bapak mengatakan: "Ainun berada dalam hati saya. Dalam tarikan nafas, denyut. Bila pak Habibie merasa kedinginan, Ibu Ainun berada dalam kehangatan cinta Ilahi." Sebuah tauladan yang difilmkan dalam film Ainun Habibie.


dok pri


Dalam berbagai media saya sarikan pesan pak habibie dengan penuh cinta pada generasi Indonesia, agar konsisten, bekerja keras, bersinergi positif, berbudaya, menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi, cerdas yang rajin. Diantara semuanya yang paling penting adalah beriman. Pesan ayahnda Bacharuddin Jusuf  Habibie, Alwi Abdul Jalil Habibie (Makasar), jadilah mata air jernih yang memberi kehidupan bagi orang banyak.

Penasaran dengan potret cinta sang inspirator bangsa? Foto-foto dapat dilihat pada  pameran foto Habibie dan gebyar aneka lomba yang diselenggarakan berbagai komunitas yang tergabung dalam Friends Of Mandiri Museum. Pameran ini dibuka untuk umum mulai 24 Juli 2016 hingga 21 Agustus 2016 di Museum Bank Mandiri, Kota Tua - Jakarta Barat. 
Pidato Habibie saat pembuka pameran 24 Juli di Museum Mandiri
dari kiri ke kanan: MC, Pembacaan puisi oleh wartawan asal Papua, 


Jadwal acara hingga tanggal 21 Agustus 2016
Pameran foto. Saya mengambil foto ini di meja dekat jajaran foto. Ada pantulan foto di meja. 

dok pri

Jarang yang mengetahui beliau senang naik motor besar

8/19/2016

3 Srikandi

Saya mengajukan diri untuk tiket nonton di microsite-nya Minyak Sunco. Informasi dari Mak Indah Julianti. Beberapa hari kemudian saya mencetak foto tugas dari pekerjaan. Sembari menunggu, cek email. Ada pemberitahuan dapat tiket free nonton 3 Srikandi. Akh senangnya, pekerjaan selesai dapat kabar baik.

Pas liburan niat mengajak anak nonton tidak kesampaian, sibuk beberes rumah. Senin sore 8 Agustus 2016  tidak ada tugas di Tetum, saya membawa Lazua untuk menonton. Tentu saja melihat genre film kira-kira anak tersebut boleh menonton. Film ini berlabel SU.  Pas berangkat hujan lebat, saya dan Lazua pakai jas hujan. Sambil berpikir ya Allah, rajin banget saya mengajak anak hujan-hujanan. Padahal harga tiket kan masih terjangkau, saya bisa memilih tempat dan waktu. Semoga ada hikmah dibalik perjalanan ini, doa dalam hujan. Katanya saat hujan adalah waktu yang mustajab.

Tiba di Blok M square 21, ada pemeran film Winter Tokyo. Sedang sesi wawancara dengan media. Saya mencari blogger, tidak ada yang saya kenal. Bertemu dengan Ibu Lia dari Wajah Bunda. Sering bertemu dengannya dalam beberapa event. Pas mengambil tiket bertemu dengan Rere. Jadi blogger itu jadi banyak kenalan, pernah di Trans Jakarta bertemu teman blogger.

Film mulai 17.45. Berbarengan dengan waktu sholat. Oh ini hikmahnya perjalanan sore ini. Bukan untuk riya. Saya mengajak Lazua ke Masjid di lantai 7. Meski ia uring-uringan, saya menjelaskan padanya, bisa nonton karena Allah. Lagi pula biasanya ada iklan dulu kok.  Jadi kita mesti Magriban dulu. Meski ia tidak sholat, semoga tertanam saat ia dewasa nanti. Juga jadi pengingat bagi saya. Sering nasihat untuk anak seperti cermin. Ia akan mengingatkan dilain waktu. Kata Umm...kan....

Sinopsis 3 Srikandi

Theatre 2 cukup penuh dengan penonton, kami kebagian di pojok di kursi D 18-19. Film sudah dimulai. Pas adegan Pak Udi (Donny Damara) mengajak Donald Pandiangan (Reza Rahardian) untuk menjadi pelatih tim olimpiade panahan.  Awalnya ia menolak untuk melatih. Karena traumatis tahun 1980 gagal berangkat ke Moskow, alasan politis. Akhirnya mau melatih dengan syarat menggunakan metodenya. Film ini bergenre drama dan biografi ini berdasarkan pengalaman nyata sekitar tahun 1988,   80 % kisah nyata. Cerita perjuangan 3 Srikandi dan pelatihnya mendapatkan medali perak di Olimpiade yang ke 24 di  Seoul 1988.






Tiga Atlet panahan yang berasal dari tiga daerah berbeda, Kusuma Wardani (diperankan  Tara Basro/Andi Mutiara Pertiwi Basro) berasal dari Ujung Pandang. Lilies Handayani dari Jawa Timur (Chelsea Elizabeth Island)  dan Nurfitriyana Saiman (Bunga Citra Lestari) dari DKI. Banyak rintangan  yang dialami mereka  sebelum maju menjadi atlet pelatnas.  Pandi si Robin Hood Indonesia cukup keras melatih ke tiga atlet. Selama latihan tinggal di Sukabumi. Berlatih di atas drum. Terakhir sebelum berangkat mereka berlatih di pantai, Pelabuhan Ratu dengan kondisi angin yang cukup besar. Film ini tidak saja menyuguhkan adegan latihan, juga banyak mengupas sisi manusiawi para atlet.

Ada kata-kata Pandi yang cukup melekat di pikiran saya. Ketika mereka usai berlatih mereka berbaur dengan masyarakat yan sedang  menonton acara pertandingan. Pandi memberi semangat pada atletnya. “Kalian yang membiayai  berangkat tanding ke Olimpade adalah rakyat. Jadi kalian harus bersungguh-sungguh berjuang. Kurang lebihnya demikian.
Terima kasih Minyak Sunco, anak saya dapat banyak hal yang baik dalam film yang disutradarai Iman Brotoseno. Rasanya saya pernah bertemu dengan Iman dalam acara blogger dan Sunco, juga  acara  ASEAN Blogger  di jalan Sisingamaraja. Ia Ketua ASEAN Blogger Community pada waktu itu.

Putra saya melihat kegigihan dalam mencapai sesuatu dan hasil sebuah usaha. Ia terharu saat Indonesia untuk pertama kalinya mendapatkan medali dalam pertandingan olah raga akbar tersebut. Cerita yang ditulis oleh Swastika Nohara dan Iman Brotoseno ini sangat layak ditonton keluarga. Kabar baiknya  saya melihat di website 3 Srikandi, ada undian  berhadiah mobil.