12/15/2017

Tips Menunggu Untuk Anak-Anak, Agar Tidak Membosankan

Sering orang berkata menunggu itu suatu yang membosankan. Entah itu antre di klinik, beli tiket, antrean tol atau menunggu pesawat tiba-tiba delay. Bagi orang tua sangat mudah mengatasi rasa bosan.  Anak-anak sering lebih sulit. Nah berikut tips agar anak tidak bosan menunggu.

1. Siapkan mainan dari rumah. Pilih yang mudah dibawa dan tanyakan pada anak, ia mau membawa apa?
2. Bawakan buku bacaan. Untuk anak yang belum bisa baca lebih asik bawa boneka tangan. Siap-siap jadi pendongeng Maknya dan Paknya.
3. Bawa majalah anak-anak. Misalnya majalah Bobo.
4. Siapkan tebak-tebakan. Kalau tidak punya buku tebak-tebakan, bisa searching.
5. Bantal  kepala atau boneka kecil. Sering anak-anak gampang mengantuk kalau menunggu.
6. Bawa buku doa. Untuk muslim bisa juga menambah hapalan surat-surat pendek atau mengulang hapalan.
7. Bawakan makanan dan minuman. Kadang ada tempat yang sulit mendapatkan makanan. Maksudnya jauh atau mahal atau makanan yang tersedia tidak sesuai untuk anak.
8. Mengamati lingkungan. Bila anak sudah bisa menulis dan ia suka. Ajak ia menulis cerita dari tempat ia menunggu. Untuk anak yang belum bisa menulis bisa tebak-tebakan barang yang ada disekitar. Dengan cara mendiskripsikan, ia menebak barang tersebut. Biar lebih seru biarkan ia juga bertanya.
Untuk anak balita bisa tebak-tebakan warna. Juga menghitung benda.
9.  Bila memungkinkan ajak kenalan anak kecil yang dekat tempat menunggu. Hitung-hitung belajar sosialisasi. Saat lebaran kami pulang ke Kalimantan Selatan. Alhamdulillah pesawatnya telat. Lumayan menunggu dua jam. Nah kebetulan ada anak balita kira-kira dibawah satu tahun. Anak-anak saya langsung mengajak main cilukba balita tersebut. Jadi hiburan lihat balita tertawa.

10. Ajak bermain gunting batu kertas atau yang lain. Tentu saja jangan sampai mengganggu orang di sekitar. Juga tergantung kondisi anak.  Tidak cocok untuk anak yang sakit dan sedang antre di klinik.
11. Ajak anak bicara. Saya menanyakan pada anak apa yang kamu lakukan ketika menunggu. Jawabnya bicara. Weh anak saya laki-laki. Ternyata ia juga senang diajak bicara. Nah kesempatan emas memasukkan petuah.
12. Bawa peralatan gunting, lem dan  kertas. Untuk naik pesawat guntingnya siap-siap disumbangkan pada petugas. Jadi masalah kalau  tahu delaynya sudah menyerahkan gunting. Gampang. Sobek-sobek saja pakai tangan. Melatih tangan anak-anak.
Anak-anak kreatif biasanya suka membuat mainan sendiri. Ini pengalaman saya memotret anak kelas Venus atau kelas dua di Sekolah Tetum Bunaya. Mereka  selesai mengerjakan tugas sekolah. Sembari menunggu teman, mereka membuat kalung, tiara dan gelang dari kertas. Peralatan sudah tersedia di kelas dan ada juga di Tetum mart. Tempat barang-barang daur ulang seperti kemasan, undangan dan lain-lain yang bisa digunakan untuk membuat karya. Jadi  siapa bilang menunggu itu membosankan. Bagi anak kreatif,  menunggu bukan hal yang membosankan. Mereka memanfaatkan waktu dengan baik. Yaii bangganya saya. Mereka produktif.

Selamat menunggu dengan hal-hal yang menyenangkan!

11/13/2017

Belajar Memimpin Diri Sendiri

Saya ketitipan anak-anak kelas satu kemaren. Hanya sebentar.  Apa yang saya lakukan?  Agar mereka tenang biasanya oleh guru anak-anak disuruh tepuk satu. Dua  kali saya melakukan itu.

Anak-anak sudah terbiasa melakukan kegiatan di lingkaran. Mereka  duduk  bersila di lingkaran. Tanpa suara.
Gurunya berpesan pemimpin minggu ini akan menceritakan poster yang sudah  dibuat.

Pemimpin mengambil poster di atas rak tas depan kelas. Lalu ia menceritakan  foto-foto yang ada di poster.

Diam-diam saya kagum dengan anak-anak. Tidak ada guru kelasnya. Mereka tenang, menyimak temannya berbicara. Ini lho yang disebut bisa memimpin diri sendiri. Memberi kesempatan orang lain memimpin dan bicara. Iklim di sekolah, sejak Kelompok Bermain anak-anak sudah diharapkan bisa mendengarkan orang lain bicara.

Saya teringat dengan kegiatan kelas Enam, beberapa waktu lalu. Mereka membuat kegiatan pemilu di kelas. Dari membuat properti hingga kampanye di kelas lima. Petugas semua kelas Enam.

Saat pengumuman pasti hanya ada satu calon menjadi pemimpin. Gurunya mengharapkan anak-anak dapat menyerap makna pemilu. Suatu saat nanti bila belum berhasil terpilih tidak kecil hati dan tetap menerima hasil pemilihan yang jujur dan adil.

Kata saya ini termasuk belajar memimpin diri sendiri. Berkait dengan situasi dunia maya dan media sosial sekarang. Saya sering melihat komen-komen tidak nyaman untuk lawan politiknya. Apalagi kalau calonnya tidak berhasil. Tak hanya individu tetapi media juga ada yang melakukan dengan bahasa provokasi.

Indonesia  dibangun tak hanya oleh pemimpin.  Dari Presiden hingga ke jajaran yang paling dekat dengan masyarakat, tetapi juga semua orang.
Orang-orang yang  memimpin dirinya sendiri untuk menjaga sikap dan perkataan agar Indonesia lebih baik.